Inilah Penyiksaan yang Dialami Orang-Orang Shalih Terdahulu

Insya Allah tulisan ini akan dilengkapi dengan teks Arabnya (ditunggu ya…)

Continue Reading Januari 17, 2009 at 6:52 am Tinggalkan komentar

Kucium Harum Aroma Anak…

(Kisah Pengorbanan Salaf dalam Menuntut Ilmu)

تزوج “عبد الله بن القاسم العتكي” ـ رحمه الله ـ بابنة عمـه. فحملت منـه و أراد السفر إلى المدينة المنورة لطلب العلم على يد الإمام “مـلك بـن أنـس”. و كـان ينوي البقاء عند “مالك” مدة طويلة ليطلب العلـم علـى يديـه. فأخبر زوجته برغبته تلك !! و لئلا يظلمها خيرها بين أنْ يطلقها و يفارقـها لتـتزوج من تشـاء!! و بين أنْ تنتظر عودته بعد سنـين, و الله أعلم كم ستكون. فاختـارت البقاء زوجة له, فترك لديها ما تيسر من المال, ثم رحل و زوجتـه إلى المدينة. و بقي عند الإمام “مالك” سبع عشرة سـنة متواصلـة, لا يعـرف عنْ زوجته و ولده شـيئاً.

قال ابن القاسم: و أنخت بباب مالك سـبع عشرة سـنة, مـا بعت فيهـا و لا اشتريت شيئا, فبينا أنا عنده ذات يوم إذا أقبل حجاج مصر. فإذا شاب متلثـم قد دخل علينا و نحن في المسجد, فسلّم على “مالك” و قال: أفيكم ابن القاسم؟ فأشاروا إليّ, فأجذ يقبل ما بين عيني. ووجدت منه رائحـة طيبـة. فإذا هي رائحة الولد. و إذا هو ابني الذي تركت أمـه حاملاً به. قد شبّ و كبر و صار رجلا.

Lihat:
كيـف تتحمس لطلب العلم الشرعي, ص: 190

Abdullah bin Al-Qasim Al-‘Atki menikah dengan putri pamannya. Di saat istrinya hamil, ia ingin pergi ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik bin Anas. Dia berniat tinggal bersama Imam Malik dalam waktu yang lama agar bisa belajar darinya. Ia memberitahukan hal tersebut kepada istrinya.

Agar tidak mendzaliminya, ia menyuruh istrinya memilih antara dicerai agar bisa menikah dengan laki-laki lain yang dia inginkan, atau dia menunggu kepulangan nya dalam waktu yang hanya الله yang mengetahuinya. Istrinya memilih untuk tetap menjadi istrinya.

Ia meninggalkan harta sekadarnya untuk istrinya kemudian pergi menuju Madinah meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Beliau tinggal bersama Imam Malik selama tujuh belas tahun dan tidak lagi mengetahui berita tentang istri dan anaknya.

Ibnul Qasim berkata, “Saya tinggal bersama Imam Malik selama tujuh belas tahun. Saya tidak pernah menjual dan membeli sesuatu. Suatu hari, rombongan haji datang dari Mesir. Di antara mereka ada seorang pemuda yang bersorban dan masuk menemui kami di masjid. Dia mengucapkan salam kepada Imam Malik dan berkata, ‘Apakah di antara Anda ada Abdullah bin Qasim?’ Orang-orang menunjuk ke arah saya. Dia segera mencium antara dua mata saya dan saya mendapatkan aroma yang sangat harum, yaitu aroma seorang anak. Dialah putra saya yang dulu saya tinggalkan dalam kandungan ibunya. Ia telah dewasa dan sudah menjadi seorang pemuda.”

[dinukil dari kitab Kaifa Tatahammas li Tholabul ‘Ilmi Asy-Syar’i, karya Abul Qa’qaa’ Muhammad bin Shalih bin Ishaq, penerbit Fahrasah Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniyyah Ats-na`a li An-Nasyr, tahun 1420 (cetakan III), hal. 190]

Januari 17, 2009 at 2:27 am Tinggalkan komentar

CURAHAN HATI YANG TAK ‘KAN BERKHIANAT

نـعـم الـمـحـدث و الـرفـيـق كـتـابُ

تـلـهـو بـه إنْ خـانـك الأصـحـابُ

لاَ مفـسـيـاً للـسـر إنْ أودعـتـه ُ

و تـنـال مـنـه حـكـمـة و صـوابُ

Sebaik-baik teman bicara dan kawan adalah buku

Ia akan menghiburmu ketika Engkau dikhianati kawanmu

Tidak membuka rahasiamu bila kau titipkan padanya

Engkau mendapatkan hikmah dan kebenaran yang nyata

(lihat kitab تقييد العل ; karya أحمد بن علي بن ثابت الخطيب البغدادي أبو بكر ; penerbit دار إحياء السنة النبوية, cetakan. III tahun 1974 M, hal. 120)

Januari 17, 2009 at 2:06 am Tinggalkan komentar

SUDAHKAH KITA MENGENAL SHAHABAT NABI?

Siapakah yang disebut Shahabat Nabi itu?
As-Shahabah merupakan bentuk jamak dari kata shahabi. Adapun kata shahabi itu sendiri secara bahasa diambil dari kata ash-shuhbah yang digunakan pada setiap orang yang bersahabat dengan selainnya, baik sedikit maupun banyak.

Imam Bukhari (dalam kitab Al-Jami’us Shahih kitab Fadhailus Shahabah Bab Keutamaan Shahabat Nabi) memberikan definisi shahabat Nabi sebagai berikut, “Siapa saja dari kaum muslimin yang pernah menyertai Nabi atau melihat beliau, maka ia termasuk shahabat nabi.

Cara Mengetahui Shahabat Nabi
1. Secara mutawatir, diketahui bahwa seseorang merupakan salah satu shahabat Nabi.
2. Dengan ketenaran, meskipun tidak sampai derajat mutawatir.
3. Riwayat dari seorang shahabat bahwa dia adalah shahabat.
4. Pengkabaran diri sendiri. Artinya, seseorang mengabarkan bahwa dirinya adalah salah seorang shahabat Nabi.

Shahabat Pertama Kali Masuk Islam

• Ada tiga pendapat:
1. Abu Bakr As-Shiddiq
2. ‘Ali bin Abi Thalib
3. Zaid bin Haritsah
4. Khadijah => Ibnu Hajar mengatakan bahwa Khadijah adalah orang pertama yang membenarkan keputusan nabi secara mutlak.

Sepuluh Shahabat yang Dijamin Masuk Surga
1. Abu Bakr As-Shiddiq
2. ‘Umar ibnu Al-Khaththab
3. ‘Utsman bin Affan
4. ‘Ali bin Abi Thalib
5. Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah
6. ‘Abdurrahman bin ‘Auf Al-Qurasyi Az-Zuhri
7. Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman Al-Qurasyi At-Taimi
8. Az-Zubair bin Al-Awwam bin Khuwailid Al-Qurasyi Al-Asadi
9. Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail Al-Qurasyi Al-‘Adawi
10. Sa’ad bin Malik bin Abi Waqqash Al-Qurasyi Az-Zuhri

‘Shahabat yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits
1. Abu Hurairah
2. ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khatthab
3. Anas bin Malik
4. Aisyah Ummul Mukminin
5. Abdullah bin Abbas
6. Jabir bin Abdillah Al-Anshari
7. Abu Sa’id Al-Khudri (Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Anshari)

Shahabat yang Paling Akhir Meninggal Dunia
• Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al-Laitsi. Beliau meninggal pada tahun 11 Hijriyah di kota Makkah.

Kitab-Kitab yang Memuat Biografi Shahabat Nabi
1. Al-Isti’ab fi Ma’rifati Al-Ashhab, karya Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah, yang lebih terkenal dengan panggilan Ibnu Abdil Barr Al-Qurthubi. Di dalam kitab ini, dimuat 4.225 biografi shahabat pria maupun wanita.
2. Usudul Ghabah fi Ma’rifat Ash-Shahabah, karya ‘Izzuddin Abu Al-hasan ‘Ali bin Muhammad bin Al-Atsir Al-Jazari. Kitab ini memuat 7.554 biografi shahabat.
3. Tajrid Asma’ Ash-Shahabah, karya Al-Hafizh Syamsuddin Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi.
4. Al-Ishabah fi Tamyizi Ash-Shahabah, karya Syaikhul Islam Al-Imam Al-Hafizh Syihabuddin Ahmad bin Ali Al-Kinani, yang lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Hajar Al-Asqalani. Jumlah biografi yang terdapat dalam kitab ini adalah 122.798. Akan tetapi, jumlah tersebut termasuk pengulangan karena ada perbedaan nama shahabat atau ketenarannya dengan kunyahnya atau gelarnya, dan terdapat pula yang disebut shahabat, padahal setelah diteliti ternyata bukan.

—————BERSAMBUNG————-

Naskah ini masih akan disunting lebih lanjut. Daftar pustaka belum penulis sebutkan karena masih dalam penyusunan umum. Apabila pembaca blog akan memberi informasi tambahan tentang shahabat NAbi, harap dikirimkan ke ginanjar_i_b@yahoo.co.id

Januari 17, 2009 at 1:53 am Tinggalkan komentar

24 DOKUMEN PROTOCOLS OF ZION

Protokol ke IV-XXIV bersambung

Continue Reading Januari 16, 2009 at 9:51 am 2 komentar

ISI LIBURANMU DENGAN BELAJAR BAHASA ARAB

Kegiatan : BADAR (Bahasa Arab Dasar) Liburan Semester Ganjil tahun ajaran 2008/2009
Materi : Tata Bahasa Arab Dasar
Buku Panduan : Kitab Muyassar

Pendaftaran
a. Tempat pendaftaran
Putra
1. Wisma MTI (Misfallah Thalabul ‘Ilmi) Pogung Kidul Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta 1/49/8C.
2. Toko Buku Ihya’, Karangbendo CT III/N0.2 Yogyakarta, Utara Fakultas Pertanian

Putri
1. Wisma Rhaudhatul ‘Ilmi, Pogung Dalangan SIA XVI/10/300 (utara TK Amal Kartini)
2. Toko Griya Muslimah, Karangbendo CT III Utara Fakultas Pertanian

Biaya Pendaftaran: Rp 60.000,00 (termasuk kitab)
Tidak menerima pendaftaran setelah briefing.
Masa Pendaftaran: 22 Desember 2008 – 18 Januari 2009.

Calon peserta diharuskan mengikuti briefing pada hari Ahad, 18 Januari 2009 di Masjid Al ‘Ashri Pogung Rejo 419 Rt.14 Rw.51 Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta. Ketika briefing, akan disampaikan teknis belajar-mengajar, pengumuman pembagian kelas, dan penjelasan teknis lainnya.

Masa Belajar : 24 Januari 2008 – 7 Februari 2009 @ 28 pertemuan

Waktu dan Tempat Belajar Putra:
Kelas Hari Waktu Tempat
Sesi I Sesi II
A Setiap hari 05.30-07.00 16.00-17.30 Masjid Siswa Graha
B Setiap hari 05.30-07.00 16.00-17.30 Masjid Siswa Graha
C Setiap hari 05.30-07.00 16.00-17.30 Masjid Pogung Dalangan
D Setiap hari 05.30-07.00 16.00-17.30 Wisma Darus Shalihin

Waktu dan Tempat Belajar Putri
Kelas Hari Waktu Tempat
Sesi I Sesi II
A Setiap Hari 06.30-08.00 16.00-17.30 Wisma Roudhatul Ilmi
B Setiap Hari 08.00-11.00 Wisma Roudhatul ‘Ilmi
C Setiap Hari 06.30-08.00 16.00-17.30 Wisma Hilyah

• Informasi Lebih lanjut
Putra : 08995057741
Putri : 085292995015

Penyelenggara:
Ma’had Umar bin Al-Khaththab Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari, sekretariat: Wisma MTI (Misfallah Thalabul ‘Ilmi) Pogung Kidul SIA XVI Rt.01 Rw. 46 No. 8C Sinduadi Mlati Sleman Yogyakarta 55284.

Belajar Bahasa Arab Dasar

Belajar Bahasa Arab Dasar

Januari 15, 2009 at 8:10 am Tinggalkan komentar

KEMATIAN HATI

(PENGHALANG TERKABULNYA DOA)

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham melewati sebuah pasar di kota Basrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan bertanya, Wahai Abu Ishaq, الله berfirman di dalam kitab suci-Nya,

ادعوني أستجب لكم
Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu”.
(Q.S. Ghaafir: 10)
Sementara kami selalu berdoa semenjak lama, tetapi tidak kunjung dikabulkan.

Lalu, Ibrahim berkata,
يا أهل البصرة ماتت قلوبكم في عشرة أشياء أولها عرفتم الله ولم تؤدوا حقه. الثاني قرأتم كتاب الله ولم تعملوا به. والثالث ادعيتم حب رسول الله صلى الله عليه وسلم وتركتم سنته. والرابع ادعيتم عداوة الشيطان ووافقتموه. والخامس قلتم نحب الجنة ولم تعملوا لها. والسادس قلتم نخاف النار ورهنتم أنفسكم بها. والسابع قلتم إن الموت حق ولم تستعدوا له. والثامن اشتغلتم بعيوب إخوانكم ونبذتم عيوبكم والتاسع أكلتم نعمة ربكم ولم تشكروها. والعاشر دفنتم موتاكم ولم تعتبروا بهم.
artinya:

Wahai warga Basrah, hati kalian sudah mati dalam sepuluh hal:
(1) Kalian mengenal الله, tetapi tidak mau menunakan hak-Nya.
(2) Kalian membaca kitabullah, tetapi tidak mau mengamalkannya.
(3) Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kalian meninggalkan sunnahnya.
(4) Kalian mengaku bermusuhan dengan setan, tetapi kalian akur dengannya.
(5) Kalian mengatakan cinta kepada surga, tetapi tidak mau beramal menuju ke sana.
(6) Kalian mengatakan takut kepada neraka, tetapi kalian malah menggadaikan diri kalian kepadanya.
(7) Kalian mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi kalian tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
(8) Kalian sibuk mencari aib saudara kalian, tetapi mengabaikan aib kalian sendiri.
(9) Kalian memakan karunia Rabb kalian, tetapi kalian tidak mensyukurinya.
(10) Kalian mengubur orang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran darinya.

——Referensi——

حلية الأولياء وطبقات الأصفياء. أبو نعيم أحمد بن عبد الله الأصبهاني. بيروت: دار الكتاب
العربي. الطبعة الرابعة, VII/15

[ Hilyatul Auliya` wa Thabaqatul Asyfiya`. Abu Nua’aim Ahmad bin Abdillah Al-Asfahani. Beirut: Darul Kitab Al-Arabiy (cetakan IV, tahun 1405 H). Juz 8, halaman 15 via software Makatabah Syamilah ]

Januari 15, 2009 at 7:36 am Tinggalkan komentar

KUNANTI DIRIMU DI SUDUT KOTA MADINAH

(Kisah Indah Keluarga Farrukh)


disusun oleh

Abu Muhammad Al-Ashri


بسم الله الرحمن الرحيم


Pembaca mulia,

Kisah keluarga Farrukh merupakan salah satu kisah terindah dalam sejarah kehidupan keluarga salaf. Farrukh merupakan seorang budak Ar-Rabiÿ bin Ziyad Al-Haritsi, salah seorang sahabat nabi kita yang mulia, Muhammad r. Selain mendapat kehoramatan besar sebagai salah satu îahabat nabi, Ar-Rabi’ juga menempati kedudukan tinggi di mata kaum muslimin karena kelihaiannya sebagai panglima perang, di samping beliau sendiri juga menjabat srbagai amir di walayah Khurasan. Bersama Farrukh dan segenap kaum muslimin, Ar-Rabi’ memporakporandakan negeri-negeri kekufuran dan menancapkan bendera tauhid di atasnya.

Ar-Rabiÿ bersama kaum muslimin berhasil menaklukan Sijistan, lalu melintasi sungai Seyhun, yang merupakan sungai penghalang penyebaran Islam di Turki dan Cina. Peristiwa besar ini terjadi pada tahun 51 Hijriah. Ini adalah masa-masa keemasan Islam ketika kaum kafir hanya bisa tunduk terhina di hadapan pekikan takbir kemenangan kaum muslimin, walhamdulillah.


Meskipun berstatus sebagai budak, Farrukh menunjukkan kepiawaian yang luar biasa dalam berperang yang menunjukkan betapa besar cintanya kepada Islam dan kaum muslimin. Melihat hal tersebut, Ar-Rabi’ memberikan bagian ghanimah (harta pampasan perang) yang sangat besar. Itu pun masih ditambah pemberian pribadai dari sang panglima.


Akan tetapi, dua tahun setelah kemenangan besar tersebut, kaum muslimin tersentak dengan berita wafatnya sang panglima. Suatu berita duka yang dalam setelah kemenangan dan cita-cita tinggi kaum muslimin tercapai. Ya.. Allah ridhoilah sang panglima dan tempatkanlah ia ke dalam jannahmu yang tinggi. Ya.. Allah ridhoilah kami karena kami meridhoi dan mencintai salah satu îahabat nabiMu yang pemberani.


Kembali ke Kampung Halaman

Sepeninggal Ar-Rabiÿ, Farrukh kembali ke Madinah dengan membawa harta yang melimpah. Ketika itu, usianya masih muda. Oleh karena itu, ia bertekad menyempurnakan separuh agamanya dengan menikahi salah seorang gadis Madinah. Farrukh merasa sangat bersyukur kepada Allah karena mendapatkan kekasih yang shalihah, berakhlak mulia, cantik, matang pemikirannya, dan serasi usianya. Dan memang benarlah ketetapan bahwa al-jazª`u min jinsi alÿamal ‘balasan itu sebanding dengan amal perbuatan yang telah dilakukan’.


Bandingkan Semangat Juang Kita dengan Semangat Juang Salaf

Pembaca mulia, barangkali, di zaman sekarang ini bila manusia telah mendapat harta yang melimpah dan pendamping hidup yang cantik, akan merasa cukup bersenag-senang di rumah atau di menghabiskan waktu di berbagai tempat wisata. Begitulah kecenderungan manusia pada umumnya, meskipun tidak dilarang jika masih sebatas pada hal-hal yang mubah dan menerjang larangan-larangan syar’i. Namun, hal ini tidak berlaku pada salaf kita yang mulia ini, Farrukh. Tak lama setelah ia menikah dengan limpahan harta hasil ghanimah yang ia dapat ketika berperang bersama Ar-Rªbiÿ, jiwa juangnya muncul kembali. Keinginan untuk ikut serta dalam jihad fi sabilillah telah merasuk ke dalam dirinya sehingga ia tak mampu lagi membendung rasa cintanya terhadap aroma debu peperangan di jalan Allah. Ia ingin bergabung lagi dengan pasukan kaum muslimin memasuki arena pertempuran untuk meruntuhkan bendera kesyirikan dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi ini. Inilah bedanya kita dengan kaum salaf dulu.


Kutinggalkan Dikau Wahai Istriku…

Berita kemenangan kaum muslimin di berbagai medan pertempuran membahana di penjuru kota Madinah. Berita ini selalu disampaikan khatib jumat di masjid Nabawi. Tidak hanya itu, khatib juga terus memotivasi kaum muslimin untuk terus berjihad di jalan Allah sembari menjelaskan keutamaan orang-orang yang mati syahid karena membela agama Allah.

Mendengar hal tersebut, memuncaklah darah ksatria Farrukh untuk mati di medan jihad. Hatinya sudah bulat untuk meninggikan syiar-syiar Islam dan menghinakan syiar-syiar kekufuran. Ia segera pulang ke rumah, lalu menemui istrinya dan menyampaikan cita-cita besarnya itu.


Sang Istri pun bertanya…

Farrukh belum lama menikahi istrinya itu. Bahkan, sang istri pun dalam keadaan hamil. Otomatis, mendengar Farrukh ingin ikut barisan perang kaum muslimin, sang istri pun bertanya,

“Wahai Abñ ÿAbdirrahmªn, kepada siapa engkau hendak menitipkan diriku beserta janin dalam kandunganku ini, sedangkan engkau adalah orang asing yang tidak mempunyai sanak keluarga di kota ini”


Kurelakan Dikau Meninggalkan Diriku…

Mendengar pertanyaan istrinya, Farrukh pun menjawab,

“Aku titipkan engkau kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, aku tinggalkan untukmu uang 30.000 dinar, hasil yang kukumpulkan dari pembagian ghanimah perangan. Pakailah secukupnya untuk keperluanmu dan keperluan bayi kita dengan sebaik-baiknya sampai aku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, atau الله memberi aku rizki sebagai syuhada` seperti yang kudambakan.”

Melihat bulatnya tekad sang suami, istri Farrukh pun merelakan kepergiannya.


Kunanti Dirimu di Sudut Kota Madinah

Tak lama setelah sang istri ditinggal kepergian sang suami tercinta, lahirlah seorang bayi mungil berwajah tampan dari rahimnya. Betapa bahagia hatinya melihat bayi ini hingga mampu mengalihkan perhatiannya terhadap kepergian sang suami.Ia menamai penyejuk hatinya itu, Ar-Rªbiÿah. Ketika pertama kali lahir, barangkali sang ibunda tidak menyadari bahwa Ar-Rªbiÿah ini nantinya akan menjadi guru dari para guru besar Islam, seperti Malik bin Anas, Abu hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-ÿAuzaÿi, Laits bin Saÿad, dan Yahya bin Saÿid Al-Anshari.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tetapi suami tercinta tidak kunjung tiba. Sebagai seorang istri yang ditinggal sendirian tanpa sanak kerabat kecuali bayi mungil, wajar apabila perasaan rindu belaian suami menggelora. Namun, bukanlah sesosok Farrukh yang datang, melainkan kabar-kabar sumbang dan isu-isu tak menyenangkanlah yang ia dengar. Entah Farrukh ditawan musuh, atau ada yang mengatakan ia masih berjihad, ada pula yang mengatakan ia telah gugur di medan laga. Barangkali, berita kematianlah yang paling ia terima karena akhirnya berita tentang Farrukh telah terputus sangat lama, seiring pertumbuhan si Ar-Rabi’ah. Tentunya, kalau bukan karena Allah yang memberi karunia kesabaran, pastilah Ummu Ar-Rabiÿah akan berbuat serong, atau menikah dengan laki-laki yang lain.


Anakku, Engkaulah Penyejuk Hatiku

Akan tetapi, Ar-Rabiÿah telah mengalihkan perhatiannya. Ummu Ar-Rabiÿah melihat sang anak tumbuh dengan ketangkasan dan kecerdasan yang meliputi dirinya. Oleh karena itu, ia memfokuskan diri untuk mendidik sang anak dengan perhatian yang sangat besar. Perhatiannya terhadap sang anak, tidak memberi kesempatan untuk mencari laki-laki lain pengganti sang Farrukh. Ia benar-benar ingin membuat anaknya menjadi tokoh terpandang di hadapan kaum muslimin. Oleh karena itu, ia pun menyerahkan anaknya itu kepada guru-guru untuk memberi pengajaran yang layak. Ia juga mendatangkan para pengajar untuk anaknya agar mengajarinya adab-dab Islam yang mulia. Uang peninggalan sang suami, ia habiskan untuk anak tercinta. Para guru yang ia datangkan, ia beri imbalan dan hadiah-hadiah yang pantas. Bahkan, setiap kali ia melihat kemajuan pada diri sang anak, ia tambahkan imbalan kepada para guru tersebut.

Perhatian besar sang ibunda terhadap ilmu, begitu membekas di hati Ar-Rabi’ah. Ia pun mulai mencintai ilmu dan para ulama. Akhirnya, ia pun bersahabat baik dengan sisa shahabat nabi kita yang mulia, Muhammad r, yaitu Anas bin Malik t. Ia juga belajar kepada para pembesar tabi’in seperti Sa’id bin Musayyib, Makhul Asy-Syami, dan Salamah bin Dinar.


Ketika Ar-Rabi’ah menginjak dewasa dengan berbagai penguasaan ilmu, ada yang memberi saran pada sang ibunda agar memerintahkan Ar-Rabiÿah untuk bekerja dan tidak lagi menuntut ilmu. Ini karena Ar-Rabiÿah sudah dianggap berilmu sehingga ia tidak perlu lagi menambahnya dan beralih bekerja mencari nafkah untuk kebutuhan dirinya sendiri dan kebutuhan ibunya. Akan tetapi, sang ibu justru berkata,

Aku memohon kepada Allah agar memilihkan baginya apa yang terbaik bagi dunia dan akhiratnya. Sesungguhnya Ar-Rabiÿah memilih untuk terus menuntut ilmu, dia bertekad senaniasa belajar dan mengajar selama hidupnya”.


Semoga Allah merahmatimu wahai Ummu Ar-Rabiÿah. Engkau habiskan waktumu untuk mendidik dan memberikan pengajaran kepada putra semata wayangmu. Tidaklah yang kau lakukan sia-sia, tidaklah sia-sia. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang penyabar.

Wahai Ummu Rabiÿah semoga engkau kini berada di dalam ketenangan

Menunggu datangnya janji yang pasti dari Rabb kita

Semoga jannah yang tinggi menjadi tempat tinggal kekalmu

Sungguh, engkau telah tiada

Meninggalkan kisah indah yang kini kami baca

Akan tetapi, betapa kerasnya hati ini….

Engkau pantas bersyukur wahai ibunda ksatria dan istri ksatria

Engkau hidup ketika Islam ditinggikan pemeluknya

Engkau hidup ketika manusia berlomba-lomba mati di jalanNya

Engkau hidup ketika bidÿah tidak bersuara

Adapun kami…

Kami tidak tahu apa yang akan kau katakan

Jika engkau melihat di masa kami

Betapa Islam dihinakan

Betapa manusia berlomba-lomba mengejar dunia

Betapa bidÿah dan ahlinya merajalela

Dan para wanita tidak lagi memiliki rasa malu

Kami tidak tahu apa yang akan kau katakan…

Ya Allah hanya kepadaMulah kami adukan perbuatan masyarakat kami

Lindungi dan perbaikilah kami wahai Rabb yang kasihMu tak akan mampu kami hitung

—bersambung—

Januari 4, 2009 at 2:50 am 1 komentar

Pemimpin yang Adil

(Sebuah Risalah Nasehat Hasan Al-Bashri kepada Khalifah)

Ketika Umar bin Abdil Aziz, menerima tampuk pemerintahan kaum muslimin sebagai khalifah kelima dari bani Umayyah, beliau menulis surat kepada Al-Hasan Al-Bashri sebagai berikut,

“Tulislah untukku wahai Abu Sa’id, tentang imam yang adil, di mana dia dan dari mana umat bisa mendapatkannya.”

Al-Hasan membalas surat khalifah sebagai berikut,

Pemimpin yang adil seperti penggembala yang pengasih, tegas, tetapi pemurah yang selalu membawa dombanya ke sebaik-baik tempat penggembalaan, menjauhkannya dari tempat yang membahayakan, menjaganya dari binatang buas, dan melindunginya dari sengatan panas.

Pemimpin yang adil seperti bapak yang menyayangi anakanya, selalu berbuat untuknya sewaktu kecil dan mengajarinya saat dewasa. Membiayai mereka ketika masih hidup, dan menyimpan untuk mereka di saat ia telah meninggal.

Pemimpin yang adil seperti ibu yang sangat sayang pada putranya, baik dan selalu menyertainya, mengandung anaknya serta melahirkannya dengan susah payah. Tidak tidur ketika sang anak tidur. Beristirahat ketika mereka istirahat. Menyusui dan menyapihnya. Ia sangat bahagia ketika mereka sehat, serat sangat memperhatyikan keluhan-keluhannya.

Pemimpin yang adil seperti penerima wasiat bagi anak-anak yatim atau bendahara bagi anak-anak miskin yang mendidik anak-anak kecil mereka dan membiayai yang besar.

Pemimpin yang adil seperti hati yang berada di antara fisik. Dia akan baik dengan kebaikannya secara umum, dan akan hancur dengan kehancurannya.

Pemimpin yang adil selalu menjalankan hak Allah dan hamba-Nya, mendengarkan firman Allah dan memperdengarkan kepada mereka. Memberikan penjelasan kepada mereka akan nikmat Rabb mereka sehingga mereka menjadi tahu, serta terus mengajak dan memimpin mereka kepada perintah Allah ta’ala.

Saya berharap, wahai amirul mukminin, bahwa Andalah

Januari 3, 2009 at 12:40 am Tinggalkan komentar

Dahsyatnya Rayuan Wanita Khawarij

——-

Continue Reading Januari 3, 2009 at 12:15 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

Maret 2021
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Halaman

Kategori