KUNANTI DIRIMU DI SUDUT KOTA MADINAH

Januari 4, 2009 at 2:50 am 1 komentar

(Kisah Indah Keluarga Farrukh)


disusun oleh

Abu Muhammad Al-Ashri


بسم الله الرحمن الرحيم


Pembaca mulia,

Kisah keluarga Farrukh merupakan salah satu kisah terindah dalam sejarah kehidupan keluarga salaf. Farrukh merupakan seorang budak Ar-Rabiÿ bin Ziyad Al-Haritsi, salah seorang sahabat nabi kita yang mulia, Muhammad r. Selain mendapat kehoramatan besar sebagai salah satu îahabat nabi, Ar-Rabi’ juga menempati kedudukan tinggi di mata kaum muslimin karena kelihaiannya sebagai panglima perang, di samping beliau sendiri juga menjabat srbagai amir di walayah Khurasan. Bersama Farrukh dan segenap kaum muslimin, Ar-Rabi’ memporakporandakan negeri-negeri kekufuran dan menancapkan bendera tauhid di atasnya.

Ar-Rabiÿ bersama kaum muslimin berhasil menaklukan Sijistan, lalu melintasi sungai Seyhun, yang merupakan sungai penghalang penyebaran Islam di Turki dan Cina. Peristiwa besar ini terjadi pada tahun 51 Hijriah. Ini adalah masa-masa keemasan Islam ketika kaum kafir hanya bisa tunduk terhina di hadapan pekikan takbir kemenangan kaum muslimin, walhamdulillah.


Meskipun berstatus sebagai budak, Farrukh menunjukkan kepiawaian yang luar biasa dalam berperang yang menunjukkan betapa besar cintanya kepada Islam dan kaum muslimin. Melihat hal tersebut, Ar-Rabi’ memberikan bagian ghanimah (harta pampasan perang) yang sangat besar. Itu pun masih ditambah pemberian pribadai dari sang panglima.


Akan tetapi, dua tahun setelah kemenangan besar tersebut, kaum muslimin tersentak dengan berita wafatnya sang panglima. Suatu berita duka yang dalam setelah kemenangan dan cita-cita tinggi kaum muslimin tercapai. Ya.. Allah ridhoilah sang panglima dan tempatkanlah ia ke dalam jannahmu yang tinggi. Ya.. Allah ridhoilah kami karena kami meridhoi dan mencintai salah satu îahabat nabiMu yang pemberani.


Kembali ke Kampung Halaman

Sepeninggal Ar-Rabiÿ, Farrukh kembali ke Madinah dengan membawa harta yang melimpah. Ketika itu, usianya masih muda. Oleh karena itu, ia bertekad menyempurnakan separuh agamanya dengan menikahi salah seorang gadis Madinah. Farrukh merasa sangat bersyukur kepada Allah karena mendapatkan kekasih yang shalihah, berakhlak mulia, cantik, matang pemikirannya, dan serasi usianya. Dan memang benarlah ketetapan bahwa al-jazª`u min jinsi alÿamal ‘balasan itu sebanding dengan amal perbuatan yang telah dilakukan’.


Bandingkan Semangat Juang Kita dengan Semangat Juang Salaf

Pembaca mulia, barangkali, di zaman sekarang ini bila manusia telah mendapat harta yang melimpah dan pendamping hidup yang cantik, akan merasa cukup bersenag-senang di rumah atau di menghabiskan waktu di berbagai tempat wisata. Begitulah kecenderungan manusia pada umumnya, meskipun tidak dilarang jika masih sebatas pada hal-hal yang mubah dan menerjang larangan-larangan syar’i. Namun, hal ini tidak berlaku pada salaf kita yang mulia ini, Farrukh. Tak lama setelah ia menikah dengan limpahan harta hasil ghanimah yang ia dapat ketika berperang bersama Ar-Rªbiÿ, jiwa juangnya muncul kembali. Keinginan untuk ikut serta dalam jihad fi sabilillah telah merasuk ke dalam dirinya sehingga ia tak mampu lagi membendung rasa cintanya terhadap aroma debu peperangan di jalan Allah. Ia ingin bergabung lagi dengan pasukan kaum muslimin memasuki arena pertempuran untuk meruntuhkan bendera kesyirikan dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi ini. Inilah bedanya kita dengan kaum salaf dulu.


Kutinggalkan Dikau Wahai Istriku…

Berita kemenangan kaum muslimin di berbagai medan pertempuran membahana di penjuru kota Madinah. Berita ini selalu disampaikan khatib jumat di masjid Nabawi. Tidak hanya itu, khatib juga terus memotivasi kaum muslimin untuk terus berjihad di jalan Allah sembari menjelaskan keutamaan orang-orang yang mati syahid karena membela agama Allah.

Mendengar hal tersebut, memuncaklah darah ksatria Farrukh untuk mati di medan jihad. Hatinya sudah bulat untuk meninggikan syiar-syiar Islam dan menghinakan syiar-syiar kekufuran. Ia segera pulang ke rumah, lalu menemui istrinya dan menyampaikan cita-cita besarnya itu.


Sang Istri pun bertanya…

Farrukh belum lama menikahi istrinya itu. Bahkan, sang istri pun dalam keadaan hamil. Otomatis, mendengar Farrukh ingin ikut barisan perang kaum muslimin, sang istri pun bertanya,

“Wahai Abñ ÿAbdirrahmªn, kepada siapa engkau hendak menitipkan diriku beserta janin dalam kandunganku ini, sedangkan engkau adalah orang asing yang tidak mempunyai sanak keluarga di kota ini”


Kurelakan Dikau Meninggalkan Diriku…

Mendengar pertanyaan istrinya, Farrukh pun menjawab,

“Aku titipkan engkau kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, aku tinggalkan untukmu uang 30.000 dinar, hasil yang kukumpulkan dari pembagian ghanimah perangan. Pakailah secukupnya untuk keperluanmu dan keperluan bayi kita dengan sebaik-baiknya sampai aku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, atau الله memberi aku rizki sebagai syuhada` seperti yang kudambakan.”

Melihat bulatnya tekad sang suami, istri Farrukh pun merelakan kepergiannya.


Kunanti Dirimu di Sudut Kota Madinah

Tak lama setelah sang istri ditinggal kepergian sang suami tercinta, lahirlah seorang bayi mungil berwajah tampan dari rahimnya. Betapa bahagia hatinya melihat bayi ini hingga mampu mengalihkan perhatiannya terhadap kepergian sang suami.Ia menamai penyejuk hatinya itu, Ar-Rªbiÿah. Ketika pertama kali lahir, barangkali sang ibunda tidak menyadari bahwa Ar-Rªbiÿah ini nantinya akan menjadi guru dari para guru besar Islam, seperti Malik bin Anas, Abu hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Abdurrahman bin Amru Al-ÿAuzaÿi, Laits bin Saÿad, dan Yahya bin Saÿid Al-Anshari.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tetapi suami tercinta tidak kunjung tiba. Sebagai seorang istri yang ditinggal sendirian tanpa sanak kerabat kecuali bayi mungil, wajar apabila perasaan rindu belaian suami menggelora. Namun, bukanlah sesosok Farrukh yang datang, melainkan kabar-kabar sumbang dan isu-isu tak menyenangkanlah yang ia dengar. Entah Farrukh ditawan musuh, atau ada yang mengatakan ia masih berjihad, ada pula yang mengatakan ia telah gugur di medan laga. Barangkali, berita kematianlah yang paling ia terima karena akhirnya berita tentang Farrukh telah terputus sangat lama, seiring pertumbuhan si Ar-Rabi’ah. Tentunya, kalau bukan karena Allah yang memberi karunia kesabaran, pastilah Ummu Ar-Rabiÿah akan berbuat serong, atau menikah dengan laki-laki yang lain.


Anakku, Engkaulah Penyejuk Hatiku

Akan tetapi, Ar-Rabiÿah telah mengalihkan perhatiannya. Ummu Ar-Rabiÿah melihat sang anak tumbuh dengan ketangkasan dan kecerdasan yang meliputi dirinya. Oleh karena itu, ia memfokuskan diri untuk mendidik sang anak dengan perhatian yang sangat besar. Perhatiannya terhadap sang anak, tidak memberi kesempatan untuk mencari laki-laki lain pengganti sang Farrukh. Ia benar-benar ingin membuat anaknya menjadi tokoh terpandang di hadapan kaum muslimin. Oleh karena itu, ia pun menyerahkan anaknya itu kepada guru-guru untuk memberi pengajaran yang layak. Ia juga mendatangkan para pengajar untuk anaknya agar mengajarinya adab-dab Islam yang mulia. Uang peninggalan sang suami, ia habiskan untuk anak tercinta. Para guru yang ia datangkan, ia beri imbalan dan hadiah-hadiah yang pantas. Bahkan, setiap kali ia melihat kemajuan pada diri sang anak, ia tambahkan imbalan kepada para guru tersebut.

Perhatian besar sang ibunda terhadap ilmu, begitu membekas di hati Ar-Rabi’ah. Ia pun mulai mencintai ilmu dan para ulama. Akhirnya, ia pun bersahabat baik dengan sisa shahabat nabi kita yang mulia, Muhammad r, yaitu Anas bin Malik t. Ia juga belajar kepada para pembesar tabi’in seperti Sa’id bin Musayyib, Makhul Asy-Syami, dan Salamah bin Dinar.


Ketika Ar-Rabi’ah menginjak dewasa dengan berbagai penguasaan ilmu, ada yang memberi saran pada sang ibunda agar memerintahkan Ar-Rabiÿah untuk bekerja dan tidak lagi menuntut ilmu. Ini karena Ar-Rabiÿah sudah dianggap berilmu sehingga ia tidak perlu lagi menambahnya dan beralih bekerja mencari nafkah untuk kebutuhan dirinya sendiri dan kebutuhan ibunya. Akan tetapi, sang ibu justru berkata,

Aku memohon kepada Allah agar memilihkan baginya apa yang terbaik bagi dunia dan akhiratnya. Sesungguhnya Ar-Rabiÿah memilih untuk terus menuntut ilmu, dia bertekad senaniasa belajar dan mengajar selama hidupnya”.


Semoga Allah merahmatimu wahai Ummu Ar-Rabiÿah. Engkau habiskan waktumu untuk mendidik dan memberikan pengajaran kepada putra semata wayangmu. Tidaklah yang kau lakukan sia-sia, tidaklah sia-sia. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang penyabar.

Wahai Ummu Rabiÿah semoga engkau kini berada di dalam ketenangan

Menunggu datangnya janji yang pasti dari Rabb kita

Semoga jannah yang tinggi menjadi tempat tinggal kekalmu

Sungguh, engkau telah tiada

Meninggalkan kisah indah yang kini kami baca

Akan tetapi, betapa kerasnya hati ini….

Engkau pantas bersyukur wahai ibunda ksatria dan istri ksatria

Engkau hidup ketika Islam ditinggikan pemeluknya

Engkau hidup ketika manusia berlomba-lomba mati di jalanNya

Engkau hidup ketika bidÿah tidak bersuara

Adapun kami…

Kami tidak tahu apa yang akan kau katakan

Jika engkau melihat di masa kami

Betapa Islam dihinakan

Betapa manusia berlomba-lomba mengejar dunia

Betapa bidÿah dan ahlinya merajalela

Dan para wanita tidak lagi memiliki rasa malu

Kami tidak tahu apa yang akan kau katakan…

Ya Allah hanya kepadaMulah kami adukan perbuatan masyarakat kami

Lindungi dan perbaikilah kami wahai Rabb yang kasihMu tak akan mampu kami hitung

—bersambung—

Entry filed under: Umum.

KEMATIAN HATI

1 Komentar Add your own

  • 1. Abu Muhammad Al-Ashri  |  Januari 15, 2009 pukul 12:44 am

    # Artikel ini akan disunting lagi karena beberapa simbol transliterasi tidak bisa muncul. Sebenarnya, penulis berupaya menggunkan transliterasi standar pemerintah, tetapi karena tidak bisa muncul, penulis akan gunakan transliterasi pada umumnya.

    Dan maaf, untuk mencari maraji’ pendukung, sambungan artikel ini akan penulis munculkan “tidak dalam waktu dekat”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2009
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Halaman

Kategori


%d blogger menyukai ini: